Hattori Hanzo lahir di provinsi Mikawa, sekitar tahun 1541, di tengah gemuruh perang saudara Jepang yang dikenal sebagai zaman Sengoku. Ayahnya bernama Hattori Yasunaga, seorang samurai yang mengabdi kepada klan Matsudaira, yang kelak berganti nama menjadi klan Tokugawa. Keluarga Hattori memiliki akar yang dalam di wilayah Iga, sebuah daerah pegunungan yang terkenal sebagai pusat pelatihan para shinobi atau ninja.
Namun karena tugas ayahnya, Hanzo kecil dibesarkan di lingkungan istana para samurai, bukan di hutan belantara Iga. Sejak usia dini, ia sudah dikenalkan dengan pedang, tombak, dan berbagai senjata khas Jepang. Ayahnya sangat disiplin dalam mendidiknya, karena ia tahu bahwa putranya kelak akan menjalani hidup yang penuh bahaya sebagai pelindung klan.Ketika menginjak usia delapan tahun, Hanzo dikirim ke Gunung Kurama, dekat Kyoto, untuk mempelajari ilmu pedang dan bela diri tingkat lanjut. Gunung Kurama memang terkenal sebagai tempat latihan para prajurit legendaris, termasuk sosok Minamoto no Yoshitsune.
Di sana, ia tidak hanya belajar cara menebas lawan, tetapi juga strategi bertahan hidup dan membaca gerak-gerik musuh. Ia menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari untuk mempertajam indranya, melompat dari batu ke batu, dan berlatih dalam berbagai kondisi cuaca. Para pengajarnya kagum karena Hanzo menunjukkan bakat yang luar biasa meskipun usianya masih sangat muda. Mereka sering berbisik bahwa bocah ini kelak akan menjadi prajurit yang ditakuti. Hanzo sendiri tidak banyak bicara, ia lebih suka membuktikan kemampuannya melalui aksi nyata. Di usianya yang masih belia, ia sudah memahami bahwa di medan perang, tidak ada tempat untuk rasa takut atau keraguan.Pada usia dua belas tahun, Hanzo sudah dianggap mahir dalam berbagai cabang ilmu ninjutsu dan strategi perang gerilya. Ayahnya mulai mempercayakan misi-misi kecil kepadanya, seperti mengintai pergerakan musuh atau mengantarkan pesan rahasia di tengah malam. Di usia ini pula, ia mulai mewarisi buku panduan kuno berjudul Ninpiden, semacam ensiklopedia ninja yang berisi taktik penyusupan, cara membuat racun, hingga resep makanan tahan lama untuk misi panjang. Hanzo mempelajari buku itu dengan saksama, menandai halaman demi halaman yang berisi teknik favoritnya. Ia juga berlatih menggunakan shuriken, belati rantai, dan berbagai alat siluman lainnya. Meskipun demikian, ia tidak pernah melupakan latihan pedang karena di medan perang terbuka, seorang samurai harus dapat bertarung secara terhormat. Kombinasi antara disiplin samurai dan kelicikan ninja inilah yang kelak membuatnya sangat unik. Hanzo tidak hanya pandai menyerang dari belakang, tetapi juga berani maju ke garis depan dengan pedang terhunus.
Ketika usianya menginjak enam belas tahun, Hanzo akhirnya mendapatkan kesempatan untuk membuktikan dirinya dalam pertempuran nyata. Peristiwa itu terjadi dalam sebuah serangan malam ke Kastil Udo, yang dikuasai oleh musuh klan Matsudaira. Meskipun masih sangat muda, ia meminta izin kepada ayahnya untuk memimpin sebuah unit kecil dalam serangan fajar. Dalam kegelapan malam yang diselimuti kabut, Hanzo dan anak buahnya menyusup melalui saluran pembuangan kastil yang sempit dan berbau anyir. Mereka bergerak seperti bayangan, menusuk para penjaga tanpa mengeluarkan suara. Ketika alarm akhirnya berbunyi, sebagian besar benteng luar sudah jatuh ke tangan mereka. Hanzo sendiri bertarung melawan tiga prajurit musuh sekaligus dan berhasil mengalahkan mereka dengan gerakan pedang yang cepat dan mematikan. Kemenangan ini membuat para panglima senior mulai melirik pemuda kurus itu. Mereka menyadari bahwa di balik posturnya yang tidak terlalu besar, tersimpan keberanian yang luar biasa.
Sekitar setahun kemudian, nama Hattori Hanzo mulai dikenal di kalangan prajurit musuh sebagai sosok yang tidak boleh dianggap remeh. Dalam sebuah pertempuran di dataran terbuka, ia memimpin barisan depan pasukan klan Matsudaira dan berhasil menerobos formasi tombak musuh yang rapat. Ia berteriak keras dan melompat ke tengah kerumunan musuh, pedangnya berputar seperti kincir angin yang memotong segala sesuatu di sekitarnya. Musuh-musuhnya tercengang melihat kegilaan pemuda itu, karena ia maju tanpa peduli luka atau tulang yang patah. Wajahnya berlumuran darahnya sendiri sekaligus darah lawan, namun matanya tetap membara seperti bara api. Dari situlah orang-orang mulai menjulukinya Oni no Hanzo, atau Hanzo si Iblis. Julukan itu bukan hanya karena keganasannya, tetapi juga karena wajahnya yang kadang terlihat sangat mengerikan saat bertempur. Konon ada seorang musuh yang begitu ketakutan hingga menjatuhkan senjatanya dan berlari tunggang langgang begitu melihat Hanzo melesat ke arahnya. Julukan itu melekat erat sepanjang hidupnya, membedakannya dari samurai lain bernama Hanzo yang lebih terkenal dengan kepiawaian menggunakan tombak.
Pada tahun 1562, Hattori Hanzo menunjukkan bahwa ia bukan hanya seorang prajurit kasar, tetapi juga negosiator yang cerdik. Saat itu, istri dan putra Tokugawa Ieyasu, tuannya, berhasil diculik dan ditawan oleh musuh dalam sebuah serangan mendadak. Ieyasu sangat marah dan cemas karena putranya adalah ahli warisnya yang sah. Ia ingin segera menyerbu sarang musuh, tetapi Hanzo mengusulkan pendekatan yang lebih halus. Dengan izin tuannya, ia menyusup sendirian ke wilayah musuh dengan menyamar sebagai seorang biksu pengembara. Selama tiga hari, ia mengamati kekuatan, kelemahan, dan rutinitas para penculik. Alih-alih menyerang, ia mendekati mereka secara diam-diam dan menawarkan sebuah kesepakatan: uang tebusan yang besar dan jaminan keselamatan jika para tawanan dilepaskan. Ia juga menyelipkan ancaman halus bahwa jika tawarannya ditolak, pasukan Iblis Hanzo akan datang dan membantai mereka semua tanpa ampun. Para penculik yang sudah mendengar reputasinya menjadi ketakutan dan akhirnya melepaskan para tawanan tanpa perlawanan. Ieyasu sangat senang dan mulai semakin percaya bahwa Hattori Hanzo adalah aset yang tak ternilai. Sejak saat itu, Hanzo tidak hanya menjadi komandan pasukan ninja, tetapi juga penasihat kepercayaan tuannya.
Keberhasilan tersebut diikuti oleh serangkaian pertempuran besar yang melibatkan klan Tokugawa melawan klan-klan tetangga yang kuat. Pada tahun 1570, Hanzo ikut serta dalam Pertempuran Anegawa, di mana pasukan gabungan Oda Nobunaga dan Tokugawa Ieyasu bertempur melawan klan Asai dan Asakura. Dalam pertempuran berdarah di tepi sungai itu, Hanzo memimpin unit ninja Iga yang beroperasi di bagian paling rawan dari medan perang. Mereka tidak bertempur dalam formasi rapi seperti pasukan samurai biasa, melainkan bersembunyi di balik pepohonan dan semak-semak, lalu melompat keluar untuk menikam musuh dari samping. Mereka juga melemparkan granat primitif yang terbuat dari bambu berisi bubuk mesiu untuk menciptakan kepanikan. Konon dalam satu momen kritis, ketika sayap kiri pasukan Tokugawa hampir runtuh, Hanzo dan anak buahnya muncul dari kabut seperti setan dan berhasil memukul mundur pasukan musuh yang hendak mengepung. Pertempuran itu berakhir dengan kemenangan gemilang bagi pihak Nobunaga, dan nama Hattori Hanzo semakin dikenal di seluruh Jepang. Banyak panglima perang lain mulai menawarkan imbalan besar kepada mata-mata mereka untuk mengumpulkan informasi tentang taktik Hanzo. Namun setiap kali ada yang mencoba meniru gayanya, mereka gagal karena tidak memiliki latar belakang ninja sejati seperti yang dimiliki Hanzo dan pasukannya.
Dua tahun kemudian, pada tahun 1572, Hanzo kembali diuji dalam Pertempuran Mikatagahara yang jauh lebih mengerikan. Kali ini, pasukan Tokugawa yang jumlahnya jauh lebih kecil harus berhadapan dengan pasukan besar dari klan Takeda yang dipimpin oleh panglima perang legendaris Takeda Shingen. Pertempuran itu berlangsung di dataran tandus yang tertutup salju tipis, dan sejak awal pasukan Tokugawa sudah terdesak. Kavaleri Takeda yang terkenal ganas menyapu pasukan Tokugawa seperti ombak menghantam pasir. Ieyasu sendiri nyaris terbunuh beberapa kali dan dipaksa mundur ke kastil kecil terdekat. Dalam situasi kacau balau itu, Hattori Hanzo mengumpulkan sekitar delapan puluh pasukan ninja terbaiknya dan membentuk barisan belakang untuk menutup mundurnya tuannya. Mereka memasang puluhan bendera palsu di bukit-bukit sekitarnya, menciptakan ilusi bahwa pasukan Tokugawa memiliki kekuatan yang jauh lebih besar. Hanzo juga memerintahkan anak buahnya untuk menyalakan api unggun dalam jumlah besar di malam hari, seolah-olah ada ribuan tentara yang sedang berkemah. Sementara itu, ia sendiri memimpin serangan bunuh diri ke barisan depan Takeda untuk membeli waktu. Dalam serangan itu, kudanya tertembak panah dan jatuh, tetapi Hanzo bangkit kembali dan terus bertarung dengan pedang di tangan. Ia kehilangan hampir separuh anak buahnya, tetapi berhasil menyelamatkan Ieyasu dan para panglima penting lainnya. Meskipun pertempuran itu secara taktis dimenangkan oleh Takeda, kemampuan Hanzo untuk melindungi tuannya di tengah bencana membuatnya semakin dihormati oleh seisi istana.
Setelah kekalahan di Mikatagahara, Tokugawa Ieyasu menjadi lebih berhati-hati dan lebih sering mengandalkan taktik gerilya yang diajukan oleh Hanzo. Selama beberapa tahun berikutnya, Hanzo bekerja tanpa kenal lelah untuk membangun jaringan mata-mata di seluruh wilayah musuh. Ia mengirim ninja-ninja terlatihnya untuk menyusup ke kastil-kastil lawan sebagai pelayan, petani, atau bahkan pelacur, untuk mengumpulkan informasi tentang kekuatan musuh. Ia juga mengembangkan sistem komunikasi rahasia menggunakan bendera, asap, dan suara burung tiruan. Di sela-sela misi intelijen, ia tetap memimpin pasukan dalam pertempuran-pertempuran kecil yang bertujuan mengganggu jalur logistik musuh. Misalnya, dalam suatu malam tanpa bulan, ia memimpin lima puluh ninja untuk menyusup ke gudang beras milik klan Takeda lalu membakarnya hingga rata dengan tanah. Keesokan harinya, pasukan Takeda yang kehabisan persediaan terpaksa mundur dari posisi strategis mereka. Ieyasu tertawa puas ketika mendengar laporan itu, dan ia memberi Hanzo hadiah berupa tanah dan koin emas dalam jumlah besar. Namun Hanzo tidak pernah menjadi kaya raya karena ia selalu membagi sebagian besar hadiahnya kepada anak buah yang terluka atau keluarga ninja yang gugur dalam tugas. Para bawahannya sangat mencintainya karena sikapnya yang rendah hati dan adil.
Hingga akhirnya tibalah tahun 1582, tahun yang mengubah segalanya. Pada bulan Juni tahun itu, penguasa paling berkuasa di Jepang, Oda Nobunaga, dikhianati oleh salah seorang jenderalnya sendiri, Akechi Mitsuhide, dalam peristiwa yang dikenal sebagai Insiden Honno-ji Nobunaga terbunuh, dan putra mahkota serta ahli warisnya juga ikut tewas. Kabar ini bagaikan petir di siang bolong bagi Tokugawa Ieyasu, yang saat itu sedang berada di wilayah Sakai, jauh dari basis kekuasaannya. Ieyasu baru saja menyelesaikan sebuah tur perundingan dan sama sekali tidak siap untuk berperang. Pasukannya hanya berjumlah beberapa puluh pengawal, sementara pasukan Akechi sudah bertebaran di seluruh Kyoto dan sekitarnya. Lebih buruk lagi, wilayah-wilayah di sekitar Sakai dikuasai oleh para panglima yang hubungannya dengan Ieyasu tidak sepenuhnya jelas. Ieyasu sempat berpikir untuk bunuh diri saja daripada tertangkap dan dihina. Namun Hattori Hanzo, yang selalu ada di sisinya, segera menyusun sebuah rencana penyelamatan yang sangat berani. Ia mengusulkan agar mereka tidak berlindung di kastil mana pun, tetapi segera melarikan diri ke timur, melewati pegunungan Iga, untuk kembali ke provinsi Mikawa yang aman.
Rute yang diusulkan Hattori Hanzo sangat berbahaya karena melintasi wilayah Iga, sebuah daerah yang keras, berbukit-bukit, dan dipenuhi oleh ninja-ninja independen yang tidak loyal kepada siapa pun. Biasanya, orang luar yang memasuki Iga tanpa izin akan dihadang dan dibunuh atau dirampok habis-habisan. Namun Hanzo memiliki keuntungan besar: akar keluarganya berasal dari Iga, dan ia masih memiliki hubungan kekerabatan dengan beberapa kepala desa di sana. Tanpa membuang waktu, ia mengirim kurir tercepatnya ke Iga untuk memberitahu para kerabatnya bahwa ia akan datang dengan membawa tuannya yang sangat penting. Kemudian, di tengah malam, ia menyamar Ieyasu sebagai seorang wanita tua yang lemas, menutupi wajah sang shogun masa depan dengan tudung bambu. Para pengawal lainnya berpakaian seperti pedagang dan biarawan keliling. Mereka bergerak dalam kegelapan, menghindari jalan-jalan utama dan pos-pos pemeriksaan, seringkali hanya berjarak beberapa ratus meter dari pasukan Akechi yang sedang berpatroli. Dalam perjalanan itu, Hanzo tidak pernah tidur lebih dari satu jam setiap malam; ia terus memantau sekeliling, telinganya selalu waspada terhadap suara langkah kaki atau gesekan pedang musuh.
Memasuki wilayah Iga, rombongan kecil itu disambut oleh para kepala desa yang masih bersaudara dengan Hattori Hanzo. Mereka menyediakan makanan, pakaian kering, dan pemandu-pemandu lokal yang hafal setiap jalan setapak di pegunungan. Di sinilah kelihaian Hanzo sebagai seorang ninja benar-benar bersinar. Ia membagi rombongan menjadi tiga kelompok kecil yang mengambil rute berbeda untuk mengelabui pengejar. Jika satu kelompok disergap, dua kelompok lainnya masih bisa melanjutkan perjalanan. Ia juga mengatur kode-kode panggilan burung hantu dan serigala untuk berkomunikasi antar kelompok di tengah hutan lebat. Suatu malam, mereka hampir tertangkap ketika sebuah patroli Akechi menyalakan obor di lereng bukit di depan mereka. Dengan cepat, Hanzo memerintahkan semua orang untuk berbaring di parit sedalam lutut dan menutupi diri mereka dengan lumpur serta daun-daun kering. Para penunggang kuda musuh lewat hanya beberapa meter dari mereka, tetapi tidak melihat apa pun karena kegelapan dan bau lumpur yang menyengat. Setelah patroli berlalu, Ieyasu yang ketakutan berbisik, “Hanzo, apakah kita akan selamat?” Sambil tersenyum tipis, Hanzo menjawab, “Tuanku, selama saya masih bernapas, tidak ada seorang pun yang akan menyentuh sehelai rambut pun di kepala tuanku.”
Ketika mereka semakin jauh masuk ke pedalaman Iga, para pengejar dari pihak Akechi mulai kehilangan jejak, tetapi bahaya baru muncul dari alam liar itu sendiri. Hujan lebat turun selama dua hari berturut-turut, mengubah jalan setapak menjadi sungai berlumpur yang licin. Ieyasu jatuh beberapa kali dan kakinya terluka, sehingga berjalan menjadi sangat menyakitkan. Hanzo memerintahkan anak buahnya untuk membuat tandu darurat dari bambu dan ranting, lalu ia sendiri bergantian menggotong tandu itu di pundaknya. Seorang pengawal tua yang ikut dalam rombongan kemudian menulis dalam catatan hariannya bahwa ia melihat air mata mengalir di pipi Ieyasu saat melihat Hanzo berjalan tertatih-tatih dengan bahu yang penuh luka lecet. Di malam hari, ketika mereka berkemah di gua-gua kecil, Hanzo tidak pernah mengizinkan api dinyalakan karena takut asapnya akan terlihat. Mereka makan nasi dingin dan umbi-umbian mentah, seringkali dalam keadaan basah kuyup dan menggigil kedinginan. Namun Hanzo selalu memastikan bahwa Ieyasu mendapat bagian terbaik dari persediaan yang sedikit itu. Ia juga secara pribadi memijat kaki tuannya di malam hari untuk mengurangi rasa sakit dan bengkak. Pengabdian seperti ini jarang ditemukan di antara para samurai pada zaman itu, di mana banyak orang lebih memilih untuk melompat ke kubu yang menang daripada tetap setia pada tuan yang sedang kesusahan.
Akhirnya, setelah perjalanan yang sangat melelahkan selama lebih dari sepuluh hari, rombongan itu berhasil menyeberangi pegunungan Iga dan memasuki provinsi Mikawa, wilayah kekuasaan Tokugawa Ieyasu yang aman. Ketika mereka melihat menara kastil Okazaki dari kejauhan, Ieyasu hampir pingsan karena lega. Ia memeluk Hattori Hanzo di depan semua pengawalnya, sesuatu yang tidak biasa dilakukan oleh seorang panglima perang terhadap bawahannya. Dengan suara parau, Ieyasu berkata, “Hanzo, hari ini kau telah menyelamatkan nyawaku. Tanpamu, aku akan mati seperti anjing di hutan asing.” Hanzo hanya menggeleng dan menjawab, “Tuanku, itu adalah kewajiban saya sebagai samurai tuanku. Semoga tuanku dapat hidup seribu tahun lagi untuk menyatukan Jepang.” Mereka kemudian masuk ke kastil dengan selamat, dan kabar bahwa Ieyasu selamat dari bencana Honnoji segera tersebar luas. Para musuh yang tadinya berencana menyerang wilayah Tokugawa menjadi ragu-ragu karena mengira Ieyasu memiliki perlindungan gaib dari para iblis. Sementara itu, di kubu Akechi, para jenderal mulai saling curiga dan kekacauan internal terjadi. Peristiwa ini, yang kemudian dikenal sebagai heroic crossing of Iga, menjadi legenda yang diceritakan dari mulut ke mulut di seluruh Jepang hingga hari ini. Julukan Hattori Hanzo tidak hanya berubah menjadi Hanzo si Iblis, tetapi juga Sang Pelindung yang Setia, karena ia berhasil melakukan apa yang dianggap mustahil oleh banyak orang.
Setelah peristiwa penyelamatan tersebut, Tokugawa Ieyasu tidak pernah melupakan jasa Hattori Hanzo. Ia memberikan Hanzo wilayah kekuasaan yang luas di daerah Iga, membuatnya menjadi seorang daimyo atau penguasa daerah, sebuah pencapaian yang sangat langka bagi seseorang yang berasal dari latar belakang ninja. Hanzo juga diangkat sebagai penjaga gerbang Kastil Edo, posisi yang sangat penting karena hanya orang yang paling dipercaya yang diperbolehkan menjaga pintu masuk istana. Dalam kapasitas barunya ini, Hanzo tidak hanya bertanggung jawab atas keamanan fisik, tetapi juga mengelola jaringan intelijen yang sangat canggih. Ia membina para ninja lokal menjadi pasukan rahasia yang dikenal sebagai Oniwaban, atau pengawal taman istana, yang bertugas mengintai dan membunuh calon penjahat sebelum mereka sempat mendekati sang shogun. Konon di Kastil Edo, ada sebuah lorong rahasia di balik dinding kamar tidur Ieyasu yang hanya diketahui oleh Hanzo dan dua orang bawahannya yang paling dipercaya. Lorong itu digunakan untuk melarikan diri jika terjadi serangan mendadak. Hanzo juga memerintahkan pembangunan beberapa jembatan khusus yang bisa runtuh dengan sendirinya jika dilewati terlalu banyak orang, sebagai mekanisme pertahanan terakhir. Bahkan setelah Ieyasu menjadi shogun dan menguasai seluruh Jepang, ia masih sering meminta nasihat Hanzo mengenai masalah intelijen dan keamanan.
Meskipun kariernya cemerlang, kehidupan pribadi Hattori Hanzo tidak selalu bahagia. Ia memiliki seorang putra bernama Hattori Masashige, yang ia latih sejak kecil dengan harapan akan menjadi penerus yang layak. Namun Masashige memiliki sifat yang sangat berbeda dengan ayahnya; ia lebih tertarik pada puisi dan seni lukis daripada ilmu pedang dan ninjutsu. Hanzo sempat kecewa, tetapi ia tidak pernah memaksa putranya untuk mengikuti jejaknya. Ia memahami bahwa perdamaian yang mulai terasa di Jepang mungkin tidak lagi membutuhkan ninja-ninja seperti dirinya. Dalam sebuah percakapan pribadi dengan Ieyasu, Hanzo pernah berkata, “Suatu saat nanti, tidak akan ada lagi perang di negeri ini, tuanku. Pada saat itu, orang-orang seperti saya akan menjadi usang, dan itu justru adalah hal yang paling membahagiakan.” Ieyasu tertawa mendengar perkataan itu, tetapi ia tahu bahwa Hanzo benar. Sementara itu, hubungan Hanzo dengan para panglima lain di istana juga cukup rumit. Beberapa dari mereka iri dengan kedekatannya dengan Ieyasu dan sering menyebarkan desas-desus bahwa Hanzo menggunakan ilmu sihir untuk mempengaruhi sang shogun. Hanzo tidak pernah menggubris gosip semacam itu; ia terus bekerja dengan tenang dan profesional. Suatu kali, ketika seorang jenderal senior menuduhnya sebagai pengecut karena lebih suka bekerja dari balik layar, Hanzo hanya menjawab, “Lebih baik menjadi pengecut yang hidup daripada pahlawan yang mati sia-sia, terutama jika kematianku akan menyusahkan tuanku.”
Dalam tugas-tugasnya sebagai penjaga gerbang Kastil Edo, Hattori Hanzo dikenal sangat tegas tetapi adil. Ia memiliki serangkaian peraturan yang ketat tentang siapa yang boleh masuk dan keluar dari istana pada jam-jam tertentu. Namun ia juga sering membuka pintu darurat bagi rakyat biasa yang datang mengadu tentang ketidakadilan yang mereka alami, sesuatu yang tidak biasa dilakukan oleh pejabat senior pada zaman itu. Suatu hari, seorang petani tua datang dengan membawa seekor ayam mati, menuduh bahwa anak buah seorang panglima telah merampok ayam-ayamnya. Hanzo mendengarkan dengan saksama, lalu memanggil sang panglima dan mengadili perkara itu di depan umum. Terbukti bahwa sang panglima memang bersalah, dan Hanzo memerintahkan hukuman yang setimpal. Peristiwa ini menyebar luas di kalangan rakyat jelata, dan mereka mulai menyebut Hanzo sebagai Hakim yang Adil di samping julukan Iblis yang sudah melekat padanya. Hanzo sendiri hanya tersenyum kecil ketika mendengar julukan barunya itu. Ia berkata kepada anak buahnya, “Aku tidak peduli apa pun sebutan mereka, yang penting adalah tuanku tidur nyenyak di malam hari tanpa khawatir akan tikaman dari dalam bayang-bayang.”
Seiring berjalannya waktu, kesehatan Hattori Hanzo mulai menurun. Puluhan tahun bertempur, luka-luka lama yang tidak pernah dirawat dengan baik mulai mengganggunya, terutama luka di kaki dan punggung bagian bawah. Ia juga sering menderita sakit kepala parah yang diduga akibat pukulan benda tumpul di masa mudanya. Meskipun demikian, ia tetap berusaha untuk menjalankan tugasnya setiap hari, tidak pernah absen meskipun satu hari pun. Ieyasu beberapa kali memerintahkan Hanzo untuk beristirahat, tetapi ia selalu menolak dengan halus. “Selama musuh masih memiliki mata dan telinga di negeri ini, tuanku, saya tidak bisa beristirahat,” katanya. Pada tahun-tahun terakhirnya, Hanzo lebih banyak menghabiskan waktu di kantornya di Kastil Edo, memeriksa laporan-laporan intelijen yang masuk dari seluruh Jepang. Ia juga mulai menulis sebuah memoar rahasia yang berisi berbagai teknik ninjutsu yang ia kembangkan selama hidupnya. Memoar itu ia wariskan kepada putranya, Masashige, dengan pesan agar tidak dibuka kecuali dalam keadaan darurat nasional. Konon hingga kini, memoar itu masih tersimpan di suatu tempat di Jepang, meskipun tidak ada yang pernah mengakui keberadaannya secara terbuka. Banyak sejarawan modern yang meragukan keaslian memoar itu, tetapi para penggemar ninja tetap percaya bahwa pengetahuan rahasi itu masih ada, menunggu untuk ditemukan oleh orang yang tepat.
Pada tahun 1596, Hattori Hanzo jatuh sakit parah dan tidak bisa bangun dari tempat tidurnya. Berita tentang kesehatannya yang memburuk dengan cepat sampai ke telinga Tokugawa Ieyasu yang saat itu sedang berada di kastil utama. Ieyasu segera menghentikan semua kegiatannya dan bergegas mengunjungi Hanzo, sebuah kehormatan besar yang sangat jarang diberikan seorang shogun kepada bawahannya. Ketika Ieyasu masuk ke kamar tidur Hanzo, ia melihat seorang prajurit tua yang kurus kering, jauh berbeda dari sosok garang yang dulu dikenal sebagai Hanzo si Iblis. Namun tatapan mata Hanzo masih tajam seperti elang, meskipun tubuhnya sudah tidak berdaya. Dengan suara yang hampir tidak terdengar, Hanzo berbisik, “Tuanku, akhirnya waktuku telah tiba. Maafkan aku karena harus meninggalkan tuanku lebih dulu.” Ieyasu yang terkenal sebagai pria yang sangat mengendalikan emosi ternyata tidak kuasa menahan air matanya. Ia menggenggam tangan Hanzo dan berkata, “Jangan bicara seperti itu. Kau masih harus menjagaku selama sepuluh tahun lagi. Siapa lagi yang akan kupercaya untuk menjaga pintu gerbang jika kau pergi?” Hanzo tersenyum lemah dan menjawab, “Putraku, Masashige, mungkin tidak sehebat aku, tetapi hatinya jujur dan setia. Tuanku bisa mempercayainya.” Itu adalah kata-kata terakhir Hattori Hanzo sebelum ia menghembuskan napasnya yang terakhir di pelukan tuannya.
Kematian Hattori Hanzo pada tahun 1596 meninggalkan duka yang mendalam di istana Tokugawa. Tidak hanya Ieyasu, tetapi juga para prajurit dan pelayan biasa ikut merasakan kehilangan yang besar. Upacara pemakamannya dilakukan dengan penghormatan militer tingkat tinggi, sesuatu yang biasanya hanya diberikan untuk seorang panglima perang besar. Ieyasu secara pribadi menuliskan nama anumerta untuk Hanzo: “Domyo-in-den Sachi Hottori Ninden” yang secara kasar berarti “Dia yang melindungi dengan pengabdian sempurna”. Hanzo dimakamkan di kuil Sainen-ji di dekat Edo, dan Ieyasu memerintahkan pembangunan sebuah batu nisan yang megah di atas makamnya. Legenda mengatakan bahwa setiap tahun pada hari kematian Hanzo, Ieyasu akan datang sendiri ke makam itu untuk membakar dupa dan berdoa, sendirian tanpa pengawal. Ia akan duduk di sana selama berjam-jam, kadang berbicara pada batu nisan seolah-olah Hanzo masih bisa mendengarnya. “Seandainya kau masih hidup, mungkin penyatuan Jepang ini bisa selesai sepuluh tahun lebih cepat,” bisik Ieyasu suatu kali di depan makam. Seorang penjaga yang mendengarnya dari kejauhan berkata bahwa suara sang shogun terdengar sangat pilu, seperti seorang yang kehilangan saudara kandungnya sendiri.
Setelah kematian Hattori Hanzo, putranya Hattori Masashige mewarisi posisi ayahnya sebagai kepala pasukan ninja Iga dan penjaga gerbang Kastil Edo. Namun seperti yang sudah diprediksi oleh Hanzo, Masashige tidak memiliki bakat atau minat yang sama dalam urusan ninjutsu dan intelijen. Ia lebih nyaman dengan pena daripada pedang, dan ia sering mengeluh bahwa pekerjaan ayahnya terlalu berdarah dan tidak bermoral. Di bawah kepemimpinan Masashige, jaringan mata-mata yang dibangun Hanzo dengan susah payah mulai melemah dan akhirnya diambil alih oleh klan lain yang lebih agresif. Ironisnya, justru karena kegagalan Masashige inilah nama Hattori Hanzo menjadi semakin legendaris. Orang-orang mulai membanding-bandingkan ayah dan anak itu, dan setiap perbandingan selalu berakhir dengan pujian yang lebih besar untuk Hanzo yang lama. Ada sebuah pepatah yang populer di kalangan samurai pada masa itu: “Setiap ayah menginginkan anak yang lebih baik, tetapi untuk Hanzo, tidak ada anak yang bisa menjadi Hanzo kedua.” Ieyasu sendiri dikatakan sempat kecewa dengan Masashige, tetapi ia tetap menjaga janjinya kepada Hanzo untuk melindungi keluarganya. Masashige hidup cukup lama dan meninggal dalam keadaan damai, mungkin karena ia memang tidak pernah menghadapi bahaya sebesar yang dihadapi ayahnya setiap hari.
Saat ini, jejak-jejak Hattori Hanzo masih bisa ditemukan di berbagai tempat di Jepang. Di kawasan Tokyo, ada stasiun kereta api yang bernama Hanzomon, yang diambil dari nama gerbang Hanzomon di Kastil Edo, gerbang yang dulu dijaga langsung oleh Hattori Hanzo. Gerbang itu sendiri masih berdiri hingga sekarang, meskipun sudah beberapa kali direnovasi, dan menjadi salah satu tujuan wisata sejarah yang populer. Di Prefektur Mie, di wilayah Iga asal leluhurnya, terdapat museum ninja yang memamerkan berbagai alat dan taktik yang konon digunakan oleh pasukan Hanzo. Di kuil Sainen-ji, makam Hattori Hanzo masih dirawat dengan baik, dan setiap tahun pada tanggal tertentu, para penggemar sejarah dan seni bela diri dari seluruh Jepang datang untuk memberikan penghormatan. Batu nisannya sering dihiasi dengan pedang-pedang kayu, shuriken, dan botol-botol sake sebagai persembahan. Konon, jika seseorang berdoa dengan khusyuk di makam itu di tengah malam, ia bisa mendengar suara langkah kaki seorang ninja yang berjalan di atas atap. Tentu saja itu hanya cerita turun-temurun, tetapi tidak sedikit orang yang mengaku pernah mengalami hal aneh di sekitar makam tersebut. Misteri itu, seperti halnya kehidupan Hanzo sendiri, tetap tidak terpecahkan hingga hari ini.
Dalam budaya populer modern, Hattori Hanzo telah diangkat menjadi ikon yang jauh melampaui sosok sejarahnya yang sebenarnya. Ia muncul dalam puluhan film, serial televisi, manga, anime, dan video game, dari yang sangat serius hingga yang konyol. Dalam film Kill Bill karya Quentin Tarantino, seorang pandai pedang bernama Hattori Hanzo digambarkan sebagai pembuat pedang terhebat di dunia, meskipun dalam sejarah sebenarnya ia tidak dikenal sebagai pandai besi. Dalam serial komik Naruto, klan Hattori disebut-sebut sebagai salah satu leluhur para ninja legendaris. Dalam game seperti Samurai Warriors dan Nioh, Hattori Hanzo muncul sebagai karakter yang bisa dimainkan, lengkap dengan jurus-jurus khas dan pakaian ninjanya yang hitam. Ironisnya, para sejarawan modern sering mengingatkan bahwa pakaian hitam ketat yang kita kenal sebagai kostum ninja standar sebenarnya adalah penemuan dari teater kabuki, bukan dari zaman Hanzo. Namun fakta-fakta kering seperti itu tidak pernah menghentikan imajinasi populer untuk terus membumbui kisah Hattori Hanzo menjadi semakin besar dari kehidupan itu sendiri. Pada akhirnya, mungkin itulah bentuk keabadian yang sejati: ketika seseorang meninggalkan jejak yang begitu dalam sehingga sejarah dan legenda menyatu menjadi satu, dan sulit bagi siapa pun untuk memisahkan mana yang benar-benar terjadi dan mana yang hanya dongeng.
Demikianlah kisah Hattori Hanzo, dari seorang bocah di provinsi Mikawa hingga menjadi legenda yang hidup di hati jutaan orang. Ia bukan hanya seorang ninja, bukan hanya seorang samurai, bukan hanya seorang pengawal setia, tetapi semua itu sekaligus dalam satu paket yang langka. Ia hidup di masa ketika kesetiaan adalah komoditas yang paling mahal, dan ia membayarnya dengan harga yang tidak terkira: keringat, darah, air mata, bahkan mungkin jiwanya sendiri. Ketika ditanya oleh cucunya menjelang ajalnya tentang apa rahasia kesuksesannya, konon Hanzo menjawab dengan sederhana, “Aku hanya melakukan apa yang benar pada waktu yang tepat, dan aku tidak pernah menyesali satu pun keputusanku.” Entah itu benar-benar kata-katanya atau bukan, satu hal yang pasti: hingga hari ini, ketika orang Jepang ingin menggambarkan seseorang yang sangat setia, cerdik, dan tangguh, mereka masih sering menggunakan nama Hattori Hanzo sebagai metafora. Dan mungkin, untuk sebuah legenda, itulah penghargaan tertinggi yang bisa diberikan oleh sejarah.
